Single Terbaru

TEMPRA Mengubah Insomnia Jadi Ledakan Emosi Tak Tidur

WARTAMUSIK.com – Jakarta. Ada lagu debut yang ingin terdengar rapi, ada pula yang memilih jujur walau berantakan. Insomnia, single perdana TEMPRA, jelas berada di kategori kedua. Lagu ini tidak menawarkan solusi, hanya mengajak pendengar masuk ke malam panjang yang penuh pikiran bising, emosi mentah, dan kelelahan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Digawangi Asyefi, Ichiro, Angga, dan Buggy, TEMPRA memperkenalkan diri lewat komposisi yang terasa seperti pergulatan batin. Rock keras, blues, dan sentuhan eksperimental diramu bukan untuk gaya-gayaan, melainkan sebagai medium meluapkan frustrasi seseorang yang tak pernah benar-benar bisa tidur—secara harfiah maupun emosional.

Baca Juga : Freeze, Surat Cinta Elisha Danielle tentang Jarak dan Pulang

Bagian awal Insomnia meledak tanpa basa-basi. Aransemen keras dan padat terdengar seperti suara kepala yang terlalu penuh untuk diajak istirahat. Ada kemarahan, ada kekesalan, dan ada dorongan untuk memberontak dari pikiran sendiri yang tak mau diam.

Lagu kemudian melambat di bagian tengah, masuk ke wilayah slow blues yang ganjil dan gelisah. Teriakan-teriakan samar muncul seperti suara dari alam bawah sadar—tidak jelas asalnya, tapi terasa nyata. Di sini, Insomnia terdengar paling rapuh, menggambarkan perjalanan imaji yang berputar tanpa arah.

Bagian ketiga justru terasa kontras. Koor kolektif yang menenangkan hadir seperti bisikan dari luar kepala, menawarkan sugesti untuk melepaskan dan mengikhlaskan kegelisahan. Bukan kemenangan, tapi momen pasrah yang terasa sangat manusiawi.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Lagu ditutup dengan aransemen kompleks dan berat, seolah menegaskan bahwa insomnia bukan sesuatu yang selesai dalam satu malam. Ada kelelahan batin yang tertinggal, bahkan setelah semua energi dikeluarkan.

Baca Juga : Costive Merilis “Outworn”, Luka Lama yang Akhirnya Dilawan

“Insomnia adalah ungkapan dan perjalanan nyata dari kegelisahan yang pernah atau mungkin selalu kita alami. Pernyataan itu terasa tepat—lagu ini tidak mencoba menjadi universal secara paksa, tapi justru terasa dekat karena kejujurannya,” ujar Asyefi, Jum’at, (26/12/2025), di Jakarta.

Lewat Insomnia, TEMPRA tidak sekadar memperkenalkan diri sebagai band baru, tapi sebagai ruang katarsis. Sebuah pengingat bahwa kadang, perjuangan melawan diri sendiri tidak perlu dimenangkan—cukup dirasakan, lalu dilepaskan perlahan. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Wartamedia Network WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vb6hTttLSmbSBkhohb1J Pastikan kalian  sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *