JAKARTA, WARTAMUSIK.com — Kompilasi independen Revolution Autumn #3 resmi dirilis sebagai penutup trilogi Revolution Autumn, menandai akhir perjalanan panjang arsip musik emo revival Indonesia sejak 2014.
Dihadirkan dalam format double-cassette bertajuk Hitam Version dan Putih Version, rilisan ini menjadi dokumentasi penting perkembangan skena skramz, midwest emo, hingga post-emo dalam ekosistem DIY lintas kota.
Dalam keterangannya, Senin, (20/4/2026), projek ini sejak awal, proyek ini digagas oleh pelaku skena seperti Indra Menus dan Akhmad Alfan Rahadi, yang mendorong pendekatan emo kembali ke akar 90-an dengan fokus pada emosi dan eksplorasi musikal.
Pada edisi ketiga, estafet kurasi dilanjutkan oleh kolektif komunitas seperti Paguyuban Emo Nusantara, bersama sejumlah pelaku lintas kota dan label independen. Total 23 band terlibat, memperkuat posisi kompilasi ini sebagai arsip kultural yang merekam dinamika lebih dari satu dekade.
Pendekatan visual juga menjadi bagian integral dalam narasi rilisan ini. Artwork garapan Farhan Endy mengusung metafora bunga anggrek sebagai simbol proses, ketahanan, dan kebangkitan setelah fase dorman panjang.
Lebih dari sekadar kompilasi, Revolution Autumn #3 diposisikan sebagai penanda keberlanjutan skena di tengah ketidakpastian global. Rilisan ini menjadi upaya mendokumentasikan suara kolektif komunitas emo revival Indonesia agar tetap hidup sebagai arsip lintas generasi.
Dengan pendekatan kuratorial, musikal, dan visual yang menyatu, Revolution Autumn #3 menegaskan perannya bukan hanya sebagai penutup trilogi, tetapi juga refleksi perjalanan dan eksistensi skena independen Indonesia. (*)










