MALANG, WARTAMUSIK.com — Unit alternative rock Inveigh melontarkan kritik terhadap ketidakadilan, korupsi, dan kesenjangan sosial melalui single terbaru berjudul “Amarah”.
Dirilis pada (27/10/2026) lalu, lagu ini menjadi wadah bagi band tersebut untuk menyuarakan keresahan terhadap kesewenang-wenangan kekuasaan dan praktik eksploitasi yang berdampak pada masyarakat.
Inveigh diperkuat Julius Bagus (Take This Life), Anizar Yasmeen (Extreme Decay), Eltria Raffi (Dazzle), dan Raditia Putra (Young Savages). Dalam “Amarah”, mereka memadukan riff gitar padat, distorsi tajam, serta karakter musik rock yang lebih berat dan bertempo lambat.
Pendekatan musikal tersebut dipilih untuk menguatkan emosi dan pesan yang dibawa lagu. Inspirasi “Amarah” berangkat dari berbagai persoalan yang mereka amati, mulai dari kabar buruk tentang pemerintahan, eksploitasi alam dan pekerja oleh oligarki, hingga praktik korupsi yang merugikan masyarakat.
“Tentu sumber inspirasi terbesar adalah orang-orang di atas sana. Seperti kebanyakan orang alami/dengar semakin hari semakin banyak kabar buruk tentang pemerintah. Tidak berhenti di situ, kami juga sangat sebal pada oligarki yang mengeksploitasi alam dan pekerja, dan juga sesama rakyat yang berjiwa korup dan memanfaatkan keadaan, merugikan rakyat lain untuk keuntungan mereka sendiri,” ungkap Inveigh, Sabtu, (6/11/2026).
Persoalan bencana alam yang dinilai tidak tertangani dengan baik, sikap pemangku jabatan terhadap kondisi masyarakat, serta tekanan ekonomi turut menjadi latar penulisan lagu. Bagi para personelnya, menyuarakan keresahan personal maupun kolektif merupakan bagian dari tanggung jawab moral sebagai musisi.
Secara naratif, “Amarah” bergerak dari keputusasaan menuju semangat perlawanan. Jika bagian awal menggambarkan rasa frustrasi, bagian akhir menghadirkan ajakan untuk bangkit, menolak ketertindasan, dan menjadikan kesadaran sebagai kekuatan.
Tema tersebut memperluas pembahasan Inveigh yang sebelumnya banyak berkutat pada kecemasan kehidupan usia 30 tahun ke atas, seperti dalam EP Dinamika dan single “Bertahan”. Kali ini, mereka membawa persoalan dari ranah personal menuju keresahan kolektif.
“Amarah” juga menjadi kolaborasi perdana Inveigh dengan Bimantara, personel band Timeless asal Surabaya. Selain menyumbangkan vokal pada bagian akhir lagu, Bimantara turut menggarap artwork sampul.
Inveigh menilai karakter vokal Bimantara sesuai dengan bagian lagu yang lebih melodis dan memuat pesan perlawanan. Sementara itu, artwork menampilkan seekor kalajengking yang bersiap menyengat sebagai simbol kemurkaan sekaligus gambaran sikap untuk melawan.
Dirilis di tengah sorotan terhadap kebakaran hutan di Kalimantan, Sumatera, dan Papua, “Amarah” diharapkan dapat menjangkau pendengar yang memiliki keresahan serupa. Inveigh ingin lagu ini menjadi pengingat agar masyarakat tidak kehilangan keberanian untuk menyuarakan pendapat dan memperjuangkan perubahan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Wartamedia Network WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vb6hTttLSmbSBkhohb1J Pastikan kalian sudah install aplikasi WhatsApp ya.
JAKARTA, WARTAMUSIK.com — Band rock JUDEX memulai perjalanan musiknya melalui single perdana berjudul “Sahabat”. Lagu… Read More
JAKARTA, WARTAMUSIK.com — MALIQ & D’Essentials memperluas perayaan album penuh kesepuluh mereka, Kabar Gembira, melalui… Read More
JAKARTA, WARTAMUSIK.com — Cécil Yang menyuarakan kejengahan terhadap orang-orang yang gemar mengumbar janji tanpa bukti… Read More
MALANG, WARTAMUSIK.com — Band emo dan alternative asal Malang, Settleblaze, memperkenalkan EP debut bertajuk Somewhere… Read More
JAKARTA, WARTAMUSIK.com — Duo penyanyi kembar Keiko dan Kioko memperkenalkan kemampuan mereka dalam menciptakan lagu… Read More
JAKARTA, WARTAMUSIK.com — Penyanyi dan penulis lagu asal Semarang, Dendi Nata, mengangkat dilema cinta beda… Read More
Leave a Comment