Full Album

Terbentur Berkali-kali, Febinda Tito Akhirnya Memilih Bertahan

WARTAMUSIK.com – Jakarta. Ada fase hidup ketika gagal sampai berulang dan kita lupa rasanya berjalan tanpa ragu. Di titik itulah Febinda Tito berdiri, lalu menuliskannya menjadi album terbarunya, “Terbentur, Terbentur, Terbentur”.

Febinda Tito menjelaskan bahwa album ini lahir dari proses panjang yang penuh keterbatasan dan ketidaktahuan. “Sebuah catatan jujur tentang lelah, jatuh, dan upaya bertahan tanpa janji akan menang,” ungkapnya, Minggu, (25/1/2026).

Baca Juga : PYC Sajikan Cinta Sebagai Rasa Lewat Album “Taste”

Dikerjakan secara lebih mandiri, Febinda kembali menggandeng Wildan Ruruh dan Windu Airlangga, dua nama yang sudah menemaninya sejak album pertama, saat bermusik masih terasa serba nekat dan amatir. Kini, mereka menghadapi tekanan yang berbeda: ekspektasi, keraguan, dan kelelahan emosional yang datang diam-diam.

Judul albumnya terdengar repetitif, tapi justru di situlah kekuatannya. “Terbentur, Terbentur, Terbentur” bukan keluhan, melainkan pengakuan bahwa hidup memang tidak selalu menawarkan klimaks dramatis. Kadang bertahan berarti tetap duduk di lantai, merasakan sakitnya, dan mengaku bahwa kita belum siap bangkit.

Secara naratif, album ini menyentuh banyak kegelisahan yang akrab bagi Gen-Z: perasaan tak kunjung selesai, menjadi pilihan kedua, harapan yang tertunda, sampai usaha berdamai dengan diri sendiri di tengah tekanan cinta dan hidup. Lagu-lagunya seperti potongan percakapan batin yang jarang diucapkan keras-keras.

Di tengah lapisan emosi tersebut, “Damai Sentosa” muncul sebagai focus track yang memberi ruang bernapas. Dengan nuansa upbeat dan energi yang lebih terang, lagu ini bukan penyangkalan atas luka, tapi jeda—pengingat bahwa optimisme bisa muncul bahkan saat keadaan belum sepenuhnya membaik.

Baca Juga : Album Edelweiss Tiara Andini, Mekar Lebih Dewasa dan Jujur

Secara musikal, Febinda meramu album ini dengan dinamika yang kontras. Nuansa musik band era 2000-an terasa kuat, dipadukan sentuhan pop modern yang membuat tiap lagu punya karakter emosionalnya sendiri: ada yang sunyi, ada yang meledak, ada yang sekadar menemani.

“Album ini bukan tentang solusi untuk berhasil,” ujar Febinda Tito. “Tapi tentang menemani perasaan tidak nyaman yang kebingungan menemukan tempatnya untuk dirayakan.” Kalimat itu terasa seperti benang merah keseluruhan album—tidak menggurui, tidak menawarkan jawaban instan. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Wartamedia Network WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vb6hTttLSmbSBkhohb1J Pastikan kalian  sudah install aplikasi WhatsApp ya.

admin

Leave a Comment

Recent Posts

Single Terbaru Angkat Cinta Nekat Lewat Nuansa Pop Alternatif Enerjik Modern

JAKARTA, WARTAMUSIK.com – Penyanyi dan penulis lagu asal Thailand, pami, kembali memperluas katalog musiknya melalui… Read More

9 hours ago

Kolaborasi Lintas Negara Hadirkan Eksplorasi Hipdut Bernuansa Pop Global Modern

JAKARTA, WARTAMUSIK.com – Kolaborasi antara Sony Music Indonesia dan Sony Music Japan kembali berlanjut melalui… Read More

9 hours ago

Single “ANTI” Tegaskan Sikap Melawan Validasi dan Tekanan Mengikuti Tren

BANDUNG, WARTAMUSIK.com - Musisi independen asal Bandung, Sipian, resmi merilis single terbaru bertajuk "ANTI" di… Read More

9 hours ago

Single Baru “Ayah” Angkat Luka Relasi Keluarga dari Perspektif Anak Berani

JAKARTA, WARTAMUSIK.com – Penyanyi dan penulis lagu asal Malaysia, Luqman Podolski, menghadirkan sudut pandang berbeda… Read More

2 days ago

Discus Bangkit Lewat Album Live Live In Switzerland 2005, Arsip Konser yang Jadi Penanda Comeback

JAKARTA, WARTAMUSIK.com – Setelah lebih dari satu dekade vakum dari sorotan publik, Discus kembali membuka… Read More

2 days ago

Ekspansi Debut ke Panggung Thailand Ini Langkah Lumina Scarlet

JAKARTA, WARTAMUSIK.com – Lumina Scarlet mengumumkan rencana ekspansi ke pasar Asia Tenggara dengan tampil di… Read More

3 days ago