Discus Bangkit Lewat Album Live Live In Switzerland 2005, Arsip Konser yang Jadi Penanda Comeback

Setelah lebih dari satu dekade vakum dari sorotan publik, Discus kembali membuka lembaran baru.
banner 468x60

JAKARTA, WARTAMUSIK.com – Setelah lebih dari satu dekade vakum dari sorotan publik, Discus kembali membuka lembaran baru. Bukan melalui album studio terbaru, melainkan lewat perilisan arsip konser bersejarah mereka di ProgSol Festival, Swiss, tahun 2005 yang kini diabadikan dalam format Compact Disc (CD) bertajuk Live In Switzerland 2005 dan dirilis oleh label independen demajors.

Peluncuran album berlangsung dalam suasana hangat melalui acara “Rilis Di Toko” di Creative Spac3 Gramedia Jalma, Melawai, Jakarta, pada Jumat (17/7/2026). Alih-alih menggelar konser besar, Discus memilih pertemuan intim bersama musisi senior, sahabat, media, dan pelaku industri musik untuk merayakan kembalinya nama yang selama ini lebih dikenal di luar negeri dibandingkan di tanah air.

Baca Juga : The Rolling Stones Hadir di Roblox Sambut Album Baru “Foreign Tongues”

Discus berdiri pada 1996 atas prakarsa Iwan Hasan dan mendiang Anto Praboe. Nama band ini terinspirasi dari ikan discus asal Amazon yang dijuluki “Raja Akuarium” dan kemudian menjadi inspirasi artwork album perdana mereka.

Menariknya, Discus tidak pernah sejak awal berniat menjadi grup progressive rock. Iwan Hasan mengungkapkan, band tersebut mula-mula dibentuk sebagai grup jazz sebelum akhirnya berkembang ke arah musik yang lebih progresif.

Baca Juga : TRICO Rilis Album “Giacometti” Pencarian Esensi Lewat Musik Eksploratif

“Awalnya itu jazz, karena saya mendirikannya sebagai grup jazz. Tapi akhirnya jadi jazz yang lebih mengutamakan progressive rock. Lucunya juga, kami diundang ke festival internasional di Amerika oleh festival progressive. Itu karena lagu ‘Kontras’ dan ‘Fantasia Gamelantronik’ yang memiliki unsur progressive fusion dan chamber music yang disukai publik prog rock,” kenang Iwan.

Menurutnya, identitas progressive justru melekat karena penilaian dari luar negeri. Sebetulnya mereka berubah jadi progressive karena ‘dicap’ oleh festival, label, dan majalah progressive di luar negeri. “Saya sama Fadhil tidak pernah bilang, ‘Ayo bikin jazz atau prog’, tapi karya kami tahun 1999 dianggap membawa warna baru dalam musik progresif,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Fadhil Indra. Ia mengatakan media Eropa turut membentuk reputasi Discus di kancah internasional.

Baca Juga : Kunto Aji Awali Album Kuda Hitam Lewat Single bERANI Terbaru

“Ada majalah di Belgia, Progressive-S, yang menulis Discus datang dari tempat yang tak diduga. Mereka menyebut musik Indonesia kembali diperhitungkan setelah era Guruh Gipsy tahun 1974. Kami dianggap sebagai penerus estafet itu,” katanya.

Iwan Hasan sendiri dikenal sebagai lulusan terbaik Willamette University, Oregon, serta merupakan satu-satunya pemain harp guitar profesional di Indonesia. Ia berguru langsung kepada pelopor instrumen tersebut, John Doan, pada 1991. Sementara Anto Praboe dikenal sebagai pemain klarinet sekaligus multiinstrumentalis yang memiliki reputasi kuat di dunia musik klasik dan jazz Indonesia.

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *