Formasi awal Discus terdiri atas Iwan Hasan, Anto Praboe, Fadhil Indra, Eko Partitur, Hayunaji, Kiko Caloh, Krisna Prameswara, dan Nonnie Cindy.
Nama Discus mulai mendapat perhatian dunia setelah album debut 1st dirilis melalui label Italia, Mellow Records, pada 1999. Album tersebut dinobatkan sebagai salah satu album progressive terbaik dunia oleh media musik Amerika Serikat, Expose, sementara majalah Belgia Prog-Resiste memasukkannya ke dalam lima album progressive rock terbaik dunia pada akhir 1999.
Baca Juga : Album Baru Rangkum Siklus Cinta dalam Delapan Emosi
Kesuksesan itu membawa Discus tampil di berbagai panggung internasional, seperti ProgNight San Francisco, Knitting Factory New York, ProgDay North Carolina, hingga BajaProg di Meksiko pada 2001.
Empat tahun kemudian, mereka merilis album kedua, Tot Licht! (2003), melalui Musea Records (Prancis) dan Gohan Records (Jepang). Rekaman konser saat tur promosi album inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Live In Switzerland 2005.
Baca Juga : Yaqin Tuangkan Memoar Perantauan Lewat Album Debut “Kebiasaan”
Iwan Hasan menjelaskan alasan dipilihnya konser di Swiss sebagai materi album live. “Karena itu rekaman yang paling bagus. Engineer-nya waktu itu Juerg Naegeli, mantan bassist Krokus, yang menurut penyelenggara ProgSol merupakan sound engineer terbaik di Swiss. Bahkan saat soundcheck saja kami sudah merasa hasilnya luar biasa,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi profesionalisme tim produksi di Swiss. “Sebulan sebelumnya mereka sudah meminta channel list, mempelajari lagu-lagu kami, bahkan menentukan materi khusus untuk soundcheck. Profesionalisme seperti itu belum pernah kami alami sebelumnya, termasuk di Indonesia maupun negara lain,” tuturnya.
Perjalanan Discus sempat terhenti setelah Anto Praboe meninggal dunia pada 2010. Iwan Hasan saat itu menyatakan mundur dan band dinyatakan bubar.
Baca Juga : Dee Lestari Tuntaskan Kisah Cinta Lewat Album Terbaru
Namun setahun kemudian, Tot Licht! justru menjadi No. 1 Best Seller All Genre di Amazon Jepang. Pencapaian tersebut menjadi titik balik yang mendorong Discus bangkit kembali hingga akhirnya tampil dengan formasi baru pada 2012.
Kini, melalui perilisan Live In Switzerland 2005, Discus tidak hanya menghadirkan dokumentasi salah satu penampilan terbaik mereka, tetapi juga membuka kembali akses bagi generasi baru untuk mengenal kiprah salah satu band progresif Indonesia yang pernah mendapat pengakuan luas di panggung musik dunia. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Wartamedia Network WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vb6hTttLSmbSBkhohb1J Pastikan kalian sudah install aplikasi WhatsApp ya.
- Editor : Fatkhurrohim










