Band Malang Kembali Usai Hiatus Usung Kritik Sosial Lewat Single Terbaru

Seven Seventy kembali usai hiatus tiga tahun dengan single "Siapa Mau Merasa Disingkirkan Lagi?" bertema kritik sosial.
banner 468x60

MALANG, WARTAMUSIK.com — Unit alternative rock Seven Seventy mengakhiri masa hiatus selama tiga tahun dengan merilis single terbaru “Siapa Mau Merasa Disingkirkan Lagi?”. Lagu ini menjadi pembuka menuju album baru sekaligus menandai perubahan arah musikal dan tema yang lebih berani dibandingkan karya-karya sebelumnya.

Setelah terakhir merilis “El Pollo Loco”, Seven Seventy kini mengusung kampanye #SemuaBerhakDidengar. Melalui lagu terbarunya, mereka mengangkat keresahan tentang ketidakadilan, tekanan kekuasaan, serta pengalaman individu maupun kolektif yang merasa tersingkirkan.

Baca Juga : Lagu Baru Angkat Kerinduan Kakak dan Adik yang Kian Menjauh

Perubahan tersebut tidak hanya terlihat pada lirik, tetapi juga dari pendekatan musikal. Band asal Malang ini mempertegas identitas alternative rock melalui dominasi distorsi gitar, ritme yang agresif, serta karakter vokal yang penuh tekanan. Formula tersebut menjadi pembeda dibandingkan rilisan sebelumnya yang lebih banyak mengeksplorasi tema romansa personal.

“Comeback kami dengan tagar #770ReigniteTheBandit ingin menunjukkan bahwa hiatus kami selama tiga tahun juga ada progresnya. Selama itu kami tetap membuat materi, bertukar ide, dan merancang arah baru untuk Seven Seventy,” ujar manajer Seven Seventy, Abil.

Formasi band kini diperkuat oleh Dimas (Ayam) sebagai gitaris sekaligus vokalis, Anggoro pada gitar dan vokal, Danang sebagai gitaris, Reza pada bass, serta Daniel di posisi drummer. Mereka mengaku memanfaatkan masa vakum untuk membangun identitas musik yang lebih matang.

Inspirasi musikal datang dari sejumlah nama seperti The Panturas, Paramore, dan Perunggu, namun Seven Seventy memilih menerjemahkannya ke dalam karakter mereka sendiri. Fokus utama bukan sekadar eksplorasi sound, melainkan menghadirkan lagu yang mampu memantik percakapan mengenai realitas sosial.

Baca Juga : Single “Main” Ajak Berdamai dan Menikmati Proses Kehidupan Bersama

“Kami sadar musik punya kekuatan untuk memulai percakapan dan kami nyaman menggunakan musik sebagai medium untuk menyuarakan keresahan yang mungkin juga dirasakan banyak orang,” kata Anggoro.

Sementara itu, Danang menilai penggunaan bahasa Indonesia menjadi elemen penting dalam penyampaian pesan. Menurutnya, bahasa ibu membuat kritik dan keresahan yang diangkat terasa lebih jujur serta dekat dengan realitas sehari-hari. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Wartamedia Network WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vb6hTttLSmbSBkhohb1J Pastikan kalian  sudah install aplikasi WhatsApp ya.

  • Editor : Fatkhurrohim
banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *