Site icon WARTAMUSIK.COM

Candei Rilis Mini Album Self-Titled, Angkat Tradisi Lokal dengan Sentuhan Kekinian

WARTAEVENT.com – Palembang. Geliat kelompok musik kontemporer yang mengangkat narasi tradisi lokal semakin berkembang di Sumatera Selatan, dan salah satu nama yang turut meramaikan gerakan ini adalah Candei, kelompok musik asal Muara Enim.

Setelah melalui perjalanan panjang, Candei kini merilis album mini perdana mereka yang bertajuk Self-Titled, yang menghadirkan lima lagu dengan lirik berbahasa Melayu Besemah.

Baca Juga : Raditya Dika Perkenalkan Proyek Musik Timun Jelita dengan EP “Volume 1” dan Novel Cerita

Mini album ini terdiri dari lima lagu yang masing-masing menawarkan cerita dan nuansa budaya lokal, di antaranya “Ghimbe,” “Sendari,” “Titah Raje,” “Cerite Baghe,” dan “Tikate Tuwe.”

Album ini juga bisa dinikmati dalam format digital, serta rilisan fisik dalam bentuk compact disc dan vinyl, memberikan fleksibilitas bagi para pendengar untuk menikmati karya ini dengan cara yang berbeda.

Candei awalnya dimulai sebagai duo yang terdiri dari Fram Prasetyo (gitar akustik, vokal) dan Triwibowo S. P. (suling), yang terbentuk secara spontan untuk memenuhi undangan pertunjukan di Palembang. Kala itu, kelompok ini masih menggunakan nama Candei Banaspati, tanpa niatan untuk melanjutkan proyek ini lebih jauh.

Baca Juga : Somnyfera Rilis Album Mini “Mantis Anggrek Pink” yang Ekspresi

Namun, seiring berjalannya waktu dan dorongan dari kolektif musik Dangau Sesiar, yang juga melibatkan band seperti Hutan Tropis dan Diroad, Candei pun berkembang dan akhirnya terbentuk secara resmi pada tahun 2020 di Muara Enim.

Seiring waktu, formasi Candei berkembang dengan bergabungnya beberapa anggota baru, termasuk Putra Kusuma (gitar akustik nilon), Syahlan Loebis (perkusi), Triwibowo S. P. (suling), dan Fajrin Ramadani (akordeon).

Bersama-sama, mereka menghasilkan musik yang memadukan unsur folk melayu dengan lirik-lirik berbahasa Melayu Besemah, sebuah bahasa dari suku Melayu Besemah yang mendiami wilayah Sumatera Selatan, khususnya di Kikim, Kabupaten Lahat, tempat asal Fram.

Baca Juga : Maudy Ayunda Rilis Album”Pada Suatu Hari”: Perjalanan Musik yang Penuh Makna

Lagu-lagu Candei dalam mini album Self Titled didominasi oleh lirik-lirik yang ditulis oleh Fram dalam bahasa Besemah. “Awalnya saya ingin menggunakan bahasa Indonesia, namun rekan-rekan saya mendorong untuk menggunakan bahasa daerah sebagai identitas kami. Bahasa Besemah adalah bahasa asli saya,” ungkap Fram.

Musik Candei juga dipengaruhi oleh tradisi musik lokal Batanghari Sembilan, yang dikenal dengan irama gitar tunggal dan tradisi bertutur dalam lagu-lagunya. Namun, yang membedakan Candei dengan tradisi Rejung atau Merejung yang umum di Sumatera Selatan adalah tema yang lebih personal dan kontemporer.

Menurut Fram, lagu-lagu Candei lebih banyak bercerita tentang kehidupan pribadi dan respons terhadap masalah sosial dan politik yang ada di sekitarnya, termasuk kehidupan adat di desa yang mengalami penyimpangan.

Baca Juga : Gisella Kembali dengan Album Pertama “Perjalanan Berharga” dan Single Terakhir “Hai! Apa Kabar?”

Setiap lagu dalam album Self Titled Candei menyampaikan pesan yang dalam mengenai pentingnya mempertahankan tradisi dan nilai-nilai budaya yang baik. Lagu-lagu ini menyentuh tema-tema yang melibatkan kritik terhadap penyimpangan dalam tradisi, serta seruan untuk kembali ke akar budaya yang lebih positif. (*)

Exit mobile version