Tantangan lain datang dari karakter vokal Sinatra yang identik dengan register rendah. Dirly yang memiliki karakter tenor harus melakukan penyesuaian ketika membawakan repertoar sang legenda.
“Frank Sinatra memiliki karakter vokal yang rendah atau bariton, sementara saya tenor. Jadi tantangannya cukup terasa,” ujarnya.
Alih-alih menjadi hambatan, perbedaan karakter vokal tersebut justru menjadi bagian dari proses musikal yang menarik. Dirly bersama Dira dan Dwiki berusaha menemukan pendekatan yang sesuai agar karya Sinatra tetap memiliki karakter, tetapi tidak kehilangan identitas vokal masing-masing.
Dwiki dan Bandung Jazz Orchestra
Kolaborasi ini juga memiliki arti khusus bagi Dwiki karena melibatkan musisi-musisi Bandung. Sebagai musisi yang berasal dari kota tersebut, ia mengaku bangga dapat kembali tampil di Bandung bersama Dira serta para pemain muda yang tergabung dalam Bandung Jazz Orchestra.
“Yang membuat saya merinding adalah karena saya sebagai orang asli Bandung, kemudian Dira juga kembali ke Bandung untuk membawakan karya Frank Sinatra,” kata Dwiki.

BJO tampil dalam format big band beranggotakan 13 pemain. Bagi Dwiki, format tersebut memberikan ruang yang tepat untuk menerjemahkan karya-karya Sinatra ke dalam aransemen yang lebih besar dan dinamis.
Dwiki sebelumnya sempat membayangkan penampilan dengan format band. Namun, gagasan untuk menggabungkan konsep tersebut dengan TP Jazz Festival kemudian berkembang menjadi pertunjukan dua vokalis dengan pendekatan big band.
Format dua penyanyi, menurut Dwiki, juga memiliki potensi untuk dikembangkan lebih jauh. Tidak hanya untuk tribute kepada Sinatra, tetapi dapat diterapkan pada berbagai tema dan konsep pertunjukan.
Sebagai music director, Dwiki juga menghadapi tantangan berbeda dibanding penampilannya di TPJF sebelumnya. Selama ini, ia dikenal banyak membawakan karya-karya orisinal dengan ruang improvisasi yang kuat.

Namun kali ini, ia justru harus masuk ke dalam dunia musikal Frank Sinatra dan menerjemahkan kembali karya-karya legendaris tersebut tanpa kehilangan daya tarik aslinya. “Kali ini saya harus memproduksi karya-karya legendaris yang sudah mendunia,” ujar Dwiki.
Bagi Dwiki, sebuah pertunjukan musik bukan semata soal seberapa rumit aransemen atau seberapa besar nama musisi yang tampil, tapi bagaimana musik dapat diterima penonton. “Sebagai musisi kita harus bisa memberikan yang terbaik, memuaskan dan menyenangkan audience, serta membuat musik itu tetap enak didengar,” ujarnya.
Melalui “A Night of Frank Sinatra”, TPJF ke-11 tidak hanya menghadirkan nostalgia terhadap seorang legenda musik dunia. Pertunjukan ini juga mempertemukan dua karakter vokal dengan kekuatan berbeda, aransemen big band Bandung Jazz Orchestra, serta interpretasi baru Dwiki Dharmawan terhadap repertoar Sinatra. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Wartamedia Network WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vb6hTttLSmbSBkhohb1J Pastikan kalian sudah install aplikasi WhatsApp ya.
- Editor : Fatkhurrohim










