BANDUNG, WARTAMUSIK.com — Regenerasi menjadi salah satu tantangan penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem jazz Indonesia. Merespons kebutuhan tersebut The Papandayan Jazz Fest (TPJF) 2026 hadir memberi ruang bagi para pemenang The Papandayan International Online Jazz Competition (TPJC) 2026 untuk tampil di panggung festival.
Kesempatan itu hadir pada hari pertama TPJF 2026. Para pemenang kompetisi tidak hanya tampil sebagai peserta lomba, tetapi mendapat ruang untuk berhadapan langsung dengan penonton dan berbagi panggung dengan musisi profesional.
Pada kategori Youth Jazz, Sea Dreams dari Jakarta membuka rangkaian penampilan dengan permainan yang eksploratif. SND kemudian menghadirkan komposisi orisinal sekaligus interpretasi baru terhadap lagu-lagu daerah Indonesia.
Di Ron88 Stage, SFG, yang meraih juara pertama kategori Youth Jazz, tampil dengan pendekatan musikal yang memadukan tradisi jazz dan eksplorasi baru. Grup yang kini menggunakan nama Disorganize itu juga diperkuat Steven Ryan Priatna, penerima penghargaan Best New Talent TPJC 2026.
Sementara itu, kategori Jazz Warrior memperlihatkan spektrum musikal yang lebih luas. Smoove dari Yogyakarta membawa perpaduan jazz, hip-hop, dan neo soul. Dadaks dari Bantul mengeksplorasi jazz kontemporer dengan memasukkan unsur budaya Indonesia melalui komposisi dan improvisasi.
Bagi peserta, TPJC tidak berhenti pada kompetisi. Program tersebut menjadi ruang untuk belajar, membangun jejaring, dan menemukan identitas musikal sebelum memasuki panggung profesional.

Anggota SFG, Fellita Atmajaya, menilai keberadaan kompetisi seperti TPJC penting bagi musisi muda.
“Saya juga berharap kompetisi ini tetap dilakukan ke depannya. Karena bisa memberi wadah bagi kami, anak-anak muda yang senang jazz. Kasih wadah untuk banyak orang untuk belajar dan berkarya, dan bahkan berkompetisi. Because a little competition is good,” ujar Fellita.
Regenerasi juga diperkuat melalui program edukasi. Hari pertama TPJF 2026 dibuka dengan masterclass bersama pianis jazz Sri Hanuraga yang memberikan wawasan mengenai perkembangan musik jazz kepada peserta.
Sementara itu, musisi sekaligus produser Barry Likumahuwa, yang tampil bersama proyek Ambon Jazz Rock di BRI Stage TPJF, menilai keberadaan panggung seperti TPJF penting dalam menjaga hubungan antara akar jazz dan perkembangan musik.
“The Papandayan selalu berhasil mengkomunikasikan dan mengkombinasikannya dengan sangat baik,” kata Barry.
Rangkaian kompetisi, edukasi, dan pertunjukan tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan jazz tidak hanya bergantung pada musisi yang telah mapan. Ruang bagi generasi baru untuk belajar, bereksperimen, dan memperoleh pengalaman panggung menjadi bagian penting dalam membangun masa depan musik jazz Indonesia. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Wartamedia Network WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vb6hTttLSmbSBkhohb1J Pastikan kalian sudah install aplikasi WhatsApp ya.
- Editor : Fatkhurrohim










