Rieka Roslan dan NadaDara: Jazz, Groove, dan Ruang bagi Musisi Perempuan

Rieka Roeslan bersama NadaDara membawa jazz, groove, dan identitas perempuan ke panggung TPJF, sekaligus membuka ruang bagi regenerasi musisi.
banner 468x60

JAKARTA, WARTAMUSIK.com — Bagi Rieka Roslan, musik jazz tidak harus hadir dalam bentuk yang sepenuhnya konvensional. Melalui NadaDara, ia membawa musik yang berakar pada jazz tetapi memiliki karakter groove yang kuat, sekaligus menghadirkan identitas perempuan dan unsur visual Nusantara melalui penggunaan kebaya.

Perpaduan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Rieka dalam mencari ruang pertunjukan untuk NadaDara. Ia mengatakan, meski karya yang dimilikinya cukup banyak dan para personel NadaDara memiliki latar belakang pendidikan musik, tidak mudah mendapatkan kesempatan tampil di sejumlah festival.

Read More
banner 300x250

“Saya coba tawarin ke beberapa festival, waktu itu hanya The Papandayan Jazz Festival yang menyambut di Bandung. Thank you TPJF,” ujar Rieka, Selasa, (22/9/2026), di Jakarta.

Menurut Rieka, NadaDara dibangun dengan semangat menghadirkan perspektif perempuan melalui musik. Di satu sisi, identitas visualnya lekat dengan kebaya; di sisi lain, musik yang dimainkan tidak ditempatkan sebagai jazz yang kaku, melainkan memiliki energi groove yang membuatnya tetap bergerak dan komunikatif.

Baca Juga :  Grand Sahid Jaya Jakarta Gelar Konser Musik Hadirkan Tiga Musisi Legendaris Sambut Pergantian Tahun

“Saya merasa bahwa saya berjuang, perempuan pakai kebaya, main balutan jazz, tapi musiknya nge-groove banget, kok susah banget dapat panggung,” katanya.

Kontradiksi tersebut justru menjadi bagian menarik dari identitas NadaDara. Jazz menjadi fondasi musikal, sementara groove memberikan dorongan ritmis yang lebih kuat. Pada saat yang sama, kebaya dan perspektif perempuan menjadi bagian dari cara Rieka membangun karakter proyek tersebut.

Namun, persoalan mendapatkan panggung sempat membuat Rieka berhenti berkarya. Baginya, proses menciptakan musik membutuhkan tujuan yang lebih jauh daripada sekadar menghasilkan karya di ruang latihan atau studio: karya perlu dipertemukan dengan audiens.

“Panggung festival itu yang membuat musisi ini mau berkarya. Karena kita berkarya kan ingin ketemu audience, tapi kalau audiencenya sulit ditemukan, kita jadi malas,” ujar Rieka.

Karena itu, kesempatan yang diberikan sebuah festival memiliki arti lebih besar bagi musisi daripada sekadar durasi tampil di atas panggung. Ketika karya mendapat ruang dan respons dari penyelenggara maupun penonton, muncul dorongan untuk kembali menulis, bereksperimen, dan memberikan sesuatu yang lebih baik.

Baca Juga :  Konser Perdana Laleilmanino & Friends Ada 18 Kolaborator, Ini Harga Tiketnya

Rieka bahkan menggambarkan etos tersebut dengan kalimat, “Semua musisi jazz pasti akan memberikan 11 kalau diminta 10. 11 akan dikasih 12.”

Bagi NadaDara, panggung TPJF menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan pendekatan musikal tersebut dengan audiens. Kehadiran mereka juga memperlihatkan bahwa regenerasi dan perkembangan jazz tidak selalu harus berlangsung melalui format yang seragam.

Jazz dapat menjadi titik berangkat untuk berbagai eksplorasi—termasuk groove, ekspresi perempuan, dan identitas budaya yang dibawa ke dalam penampilan.

Dalam konteks itulah, pengalaman Rieka bersama NadaDara menunjukkan fungsi lain sebuah festival: bukan hanya menghadirkan musisi kepada penonton, tetapi juga memberi musisi alasan untuk terus menciptakan karya dan menemukan audiensnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Wartamedia Network WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vb6hTttLSmbSBkhohb1J Pastikan kalian  sudah install aplikasi WhatsApp ya.

  • Editor : Fatkhurrohim
banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *