Konsep visual “Semesta” juga mengikuti gagasan tersebut. Video musiknya dirancang dengan pendekatan teatrikal dan sinematik menggunakan lanskap alam terbuka sebagai ruang cerita.
Dua karakter utama ditempatkan di sebuah dermaga. Keduanya pada awalnya hadir sebagai individu yang sendiri, sebelum kemudian bertemu dan membangun hubungan. Cerita berkembang melalui simbol-simbol tentang pertemuan, kedekatan, hingga perpisahan.
Salah satu konflik yang diangkat adalah hubungan cinta yang menghadapi perbedaan keyakinan. Visual tersebut kemudian menggunakan simbol dua tangan yang saling berhadapan sebelum akhirnya terpisah.
Siklus kehidupan menjadi gagasan lain yang dibawa dalam video musik. Ketika salah satu karakter meninggalkan ruang tersebut, karakter lainnya kemudian menempati posisi yang sama. Pergantian itu menjadi metafora tentang manusia yang lahir, menjalani kehidupan, kemudian meninggalkan dunia untuk digantikan generasi berikutnya.
Bagi Mighfar, gagasan “Semesta” berangkat dari refleksi mengenai kehidupan manusia dan berbagai persoalan yang terus muncul dari generasi ke generasi. Bentuknya dapat berubah mengikuti zaman, tetapi pengalaman mengenai keluarga, cinta, pertemanan, kehilangan, dan pilihan hidup tetap menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Perjalanan Mighfar sendiri turut menjadi bagian dari latar emosional proyek ini. Ia mulai serius menulis dan merilis musik pada 2020 setelah meninggalkan pekerjaannya. Musik kemudian menjadi medium personal untuk menuangkan berbagai pengalaman dan proses pemulihan dirinya.
Kini, pendekatan tersebut berkembang menjadi karya yang menghubungkan musik, sastra, dan visual. Melalui “Semesta”, Mighfar tidak hanya menawarkan kumpulan lagu, tetapi membangun sebuah dunia cerita yang dapat ditelusuri melalui beberapa medium. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Wartamedia Network WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vb6hTttLSmbSBkhohb1J Pastikan kalian sudah install aplikasi WhatsApp ya.
- Editor : Fatkhurrohim










