Bagi tiga personel Beludru, keputusan untuk kembali bermain musik juga hadir ketika mereka telah memasuki fase kehidupan yang berbeda. Karena itu, “Bingar” tidak ditempatkan sebagai usaha mengejar kembali masa muda.
Sebaliknya, lagu tersebut menjadi semacam perayaan kecil atas keberanian untuk kembali mencoba. Ada pengalaman, usia, keraguan, sekaligus hasrat lama yang masih tersisa.
Proses rekaman “Bingar” berlangsung di Soundhead Studio, Jakarta Selatan. Dwi Putra Nugraha terlibat dalam proses recording, mixing, dan mastering.
Sementara artwork single dikerjakan oleh Hasbi. Ia menerjemahkan metafora mammoth yang digunakan Beludru sebagai gambaran perjalanan mereka: seekor makhluk yang setelah puluhan tahun kembali melewati jalur yang pernah dihuni.

“Bingar” menjadi pembuka menuju proyek berikutnya. Beludru tengah menyiapkan EP perdana, dengan sejumlah single lain yang akan dirilis secara bertahap sebelum keseluruhan proyek tersebut diperkenalkan.
Dengan single pertama ini, Beludru memilih untuk tidak mengulang siapa mereka pada masa lalu. Mereka kembali ke jalan yang pernah dilewati, tetapi kali ini membawa usia, pengalaman, keraguan, dan cara pandang yang berbeda.
“Bingar” pun menjadi penanda bahwa jeda panjang tidak selalu berarti berakhirnya sebuah hasrat. Ada hal-hal yang mungkin tertinggal selama perjalanan, tetapi dapat kembali menyala ketika seseorang memutuskan untuk menempuh jalan yang sama sekali lagi. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Wartamedia Network WhatsApp Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vb6hTttLSmbSBkhohb1J Pastikan kalian sudah install aplikasi WhatsApp ya.
- Editor : Fatkhurrohim










